Share |

Sentra Industri Batik Perkuat Daya Beli Masyarakat Kabupaten Cianjur

05 April 2011, 10:21 WIB

Gema (gerakan masyarakat) memanfaatkan dan menggali potensi produk unggulan daerah, semakin dapat dirasakan memberikan dampak positif, terutama terhadap laju pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pendapatan ekonomi keluarga. Pemberdayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia harus secara terus menerus dan nyata dapat dilaksanakan, agar mampu menumbuhkan usaha dan komitmen pengrajin, pemerintah dan pengusaha guna melakukan penyedia bahan baku hingga menghasilkan bahan jadi untuk dapat dipasarkan atau dikonsumsi masyarakat, sehingga peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di Kabupaten Cianjur dapat dicapai dengan berkesinambungan.

Dengan aneka kerajinan produk unggulan yang dihasilkan Kabupaten Cianjur, dilihat dari segi kreasi makanan jajanan maupun kreasi motif batik khas Cianjur, tampak telah mendapatkan tanggapan serta pengakuan yang mumpuni dari berbagai masyarakat Dunia, bahkan hasil olahan berbagai kerajinan pun memiliki kualitas yang tidak kalah untuk bersaing diantara Kabupaten/Kota di Jawa Barat dan Nasional.

Upaya pengolahan hasil produksi dari batik khas Cianjur ini, hendaknya harus tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat secara berjenjangan dan meluas, agar pendapatan yang diperoleh dapat merata dan mampu meningkatkan daya beli mereka. Karena aktivitas pengolahan batik ini tidaklah sesulit apa yang kita bayangkan, mengingat bahan baku pewarna batik seperti Kulit Manggis, Tumbuhan Mahoni (Kulit Ekstra Mahoni), Pohon Ketapang, Jambu Biji, Ekstrak Kunyit, Mengkudu dan Buah Arben dan bahkan bagian Tanaman yang digunakan untuk warna batik pun seperti Kulit Kayu, Batang Kayu, Akar Kayu, Bunga, Biji dan Getah Kayu, sangat mudah untuk kita peroleh, bahkan untuk pengolahan dan pembuatan bahan kain batik sudah tersedia di kampung Sarongge Kecamatan Cugeunang, maka dalam melihat dari pembuatan kain untuk batik, pewarna batik dan motif batik tersebut, ternyata semua bahan itu cukup tersedia di Kabupaten Cianjur yang tersebar di 32 Kecamatan serta 353 Desa.

Kelangsungan usaha batik tersebut, apabila dengan melaksanakan sistem simbiosismutualisme dengan membuka sentra-sentra pengrajin batik, tentu semakin kuat memberikan dampak dari pada derajat kehidupan masyarakat di masa yang akan datang, meskipun pada saat ini relatif masih sangat kecil pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Cianjur. Karena langkah-langkah nyata itu baru dilakukan oleh 2 kelompok pengrajin batik yang masing-masing berlokasi di Jalan Slamet Riyadi No 15 Cianjur yang bernama Koperasi Beasan dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang dan kelompok Karyanusa Desa Babakansari Kecamatan Sukaluyu dengan jumlah anggotanya sebanyak 150 orang. Maka dengan kenyataan yang ada tersebut tidak dapat kita pungkiri, walaupun baru terdapat 2 kelompok masyarakat yang berusaha pada bidang kerajianan batik khas Cianjur ini, ternyata hal ini secara faktual dapat meningkatkan pendapatan masyarakat antara 30% sampai dengan 40%.

Hal ini tentunya membuka harapan dan peluang besar bagi 56.494.576 jiwa pada angka partisipasi angkatan kerja dan tingkat pengangguran terbuka di tahun 2007 dan 2008 di Kabupaten Cianjur berdasarkan hasil sensus penduduk untuk dapat diminimalisir dan dapat turut serta mengembangkan usaha daripada batik khas Cianjur ini.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu suatu langkah-langkah konkrit dengan mengembangkan embrio sentra-sentra produksi usaha kerajinan batik khas Cianjur (Simbiosis Mutualis). Karena sudah barang tentu dengan adanya apresiasi tersebut, hasil olahan produksi batik khas Cianjur dapat menumbuhkan aneka kreasi motif batik khas Cianjur untuk diperjual belikan dan dipergunakan oleh konsumen di berbagai acara maupun ruang dan waktu kepentingan konsumennya. Sebagaimana diungkapkan Prof. Sammy Kristamuljana, Ph.D sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Prasetya Mulya bahwa aktivitas pengrajin batik khas Cianjur ini agar terus berkembang dan meningkatkan daya pemilik kontens akan komoditas unggulan daerah bersama-sama dengan para pengrajin batik khas Cianjur maupun lembaga-lembaga swasta, untuk mengelola, mengolah dan memasarkan hasil produksinya, sehingga dengan adanya aneka hasil batik khas daerah tersebut sebagaimana yang dikatakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu bahwa diharapkan para pengusaha retel dapat memperbanyak program dalam membina para pengrajin atau UKM untuk menjadi pemasok yang handal hasil produksinya.(hms).